Ogan Ilir: Profil Kabupaten, Sejarah, dan Wisatanya

TL;DR

Ogan Ilir adalah kabupaten di Sumatera Selatan yang berjarak sekitar 35 km dari Palembang, dengan ibu kota di Indralaya. Kabupaten ini terbentuk pada 2003 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan dikenal sebagai penghasil nanas terbesar di Sumsel. Ogan Ilir juga menjadi lokasi kampus utama Universitas Sriwijaya seluas 712 hektare, yang disebut sebagai kampus terluas di Asia Tenggara.

Bagi banyak orang Palembang, Ogan Ilir adalah kabupaten tetangga yang selalu terasa dekat. Cukup 30 menit lewat Tol Palindra, Anda sudah sampai di Indralaya. Tapi di balik kedekatannya dengan ibu kota provinsi, Kabupaten Ogan Ilir punya karakter sendiri: wilayah rawa yang luas, pertanian yang masih jadi tulang punggung ekonomi, dan kampus universitas negeri yang lahannya terbesar di Asia Tenggara.

Kabupaten Ogan Ilir (sering disingkat OI) adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Secara administratif, kabupaten ini terdiri dari 16 kecamatan, 227 desa, dan 14 kelurahan dengan luas wilayah 2.666,07 km². Pada akhir 2024, jumlah penduduknya tercatat sekitar 446.020 jiwa. Berikut profil lengkap Ogan Ilir, mulai dari sejarah, geografi, ekonomi, hingga wisatanya.

Asal Nama dan Sejarah Pembentukan Ogan Ilir

Nama “Ogan Ilir” punya arti yang cukup harfiah. “Ogan” merujuk pada Sungai Ogan, salah satu dari sembilan sungai besar di Sumatera Selatan yang dikenal sebagai Batanghari Sembilan. “Ilir” berarti bagian hilir. Jadi, Ogan Ilir adalah wilayah yang terletak di sepanjang aliran hilir Sungai Ogan, mulai dari Kecamatan Muara Kuang di perbatasan dengan Kabupaten OKU hingga bermuara di Sungai Musi di Kota Palembang.

Sebelum berdiri sendiri, wilayah Ogan Ilir merupakan bagian dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Gagasan untuk memisahkan diri sebenarnya sudah muncul sejak 1958, ketika para mahasiswa Ogan Ilir yang kuliah di Yogyakarta (tergabung dalam Ikatan Pelajar Ogan Ilir atau IPOI) mulai menyuarakan ide pemindahan ibu kota OKI dari Kayu Agung ke Tanjung Raja. Namun ide itu belum terwujud selama puluhan tahun.

Baru setelah era Reformasi 1998, rencana pemekaran kembali mencuat. Prosesnya tidak mudah. Survei kelayakan pertama oleh Universitas Sriwijaya pada 2001 justru menyimpulkan bahwa OKI belum layak dimekarkan. Baru setelah survei kedua oleh STPDN Jatinangor yang menggunakan 7 kriteria pemekaran daerah, hasilnya menyatakan OKI sangat layak dipecah menjadi dua kabupaten.

Puncaknya, masyarakat Ogan Ilir menggelar rapat akbar di Lapangan Polsek Indralaya yang dihadiri perwakilan Kemendagri dan DPR RI. Kabupaten Ogan Ilir resmi terbentuk melalui UU Nomor 37 Tahun 2003, yang disahkan pada 18 Desember 2003 dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada 7 Januari 2004.

Geografi dan Kondisi Wilayah

Ogan Ilir terletak di jalur lintas timur Sumatera, dengan posisi geografis antara 3°02′ sampai 3°48′ LS dan 104°20′ sampai 104°48′ BT. Batas wilayahnya meliputi Kabupaten Banyuasin dan Kota Palembang di utara, Kabupaten OKU di selatan, Kabupaten OKI dan OKU Timur di timur, serta Kabupaten Muara Enim dan Kota Prabumulih di barat.

Wilayah bagian utara kabupaten ini didominasi oleh dataran rendah berawa yang luas, membentang dari Kecamatan Pemulutan hingga Indralaya Selatan. Sekitar 65% wilayah Ogan Ilir berupa daratan, sementara 35% sisanya adalah rawa dan wilayah berair. Ketinggiannya hanya sampai 14 meter di atas permukaan laut, dengan tanah yang cenderung asam (pH 4,0 sampai 6,0).

Kecamatan terluas adalah Rambang Kuang (528,82 km²), disusul Indralaya Utara (502,47 km²). Kecamatan terkecil adalah Rantau Panjang, hanya 40,85 km². Iklim di Ogan Ilir tergolong tropis basah dengan musim hujan antara November sampai April dan musim kemarau antara Mei sampai Oktober.

Penduduk dan Suku di Ogan Ilir

Sebagian besar penduduk Ogan Ilir berasal dari rumpun Melayu, dengan tiga sub-suku utama: Ogan, Penesak, dan Pegagan. Ketiga kelompok ini punya sejarah panjang di sepanjang aliran Sungai Ogan.

Suku Penesak (juga dikenal sebagai suku Meranjat) tersebar terutama di Kecamatan Tanjung Batu dan sebagian Lubuk Keliat. Bahasa sehari-hari mereka adalah Melayu Penesak, yang oleh penduduk lokal disebut “bahasa urang diri.” Asal-usul suku ini diyakini bermula dari keturunan bangsawan Sriwijaya yang berpindah ke Desa Meranjat.

Suku Pegagan mendiami daerah Marga Pegagan Ilir Suku I, II, dan III. Kelompok ini terbagi lagi menjadi dua rumpun, yaitu Pegagan Ulu dan Pegagan Ilir. Masyarakat Pegagan dikenal masih menjaga tradisi kesenian dan kebudayaan nenek moyang mereka, termasuk seni tenun songket, ukir kayu, dan kerajinan emas.

Salah satu tradisi pernikahan adat yang masih hidup di Ogan Ilir adalah “Pengadangan,” sebuah prosesi di mana rombongan pengantin pria diadang oleh keluarga pengantin perempuan menggunakan selendang sebagai simbol penyambutan dan verifikasi identitas. Tradisi ini masih dijalankan dalam pernikahan modern di beberapa kecamatan.

Ekonomi: Pertanian dan Nanas Sebagai Komoditas Unggulan

Mayoritas penduduk Ogan Ilir bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Lahan rawa yang luas menjadi modal utama untuk pertanian padi sawah lebak, sebuah sistem pertanian yang bergantung pada pasang surut air sungai.

Komoditas unggulan Ogan Ilir adalah nanas. Menurut data BPS tahun 2021, kabupaten ini menghasilkan 4.215.919 kuintal nanas, menjadikannya penghasil nanas terbesar di Sumatera Selatan. Nanas dari Ogan Ilir tidak hanya dijual segar, tetapi juga diolah menjadi produk turunan seperti dodol nanas oleh UMKM lokal di Kecamatan Payaraman.

Selain nanas, Ogan Ilir juga punya potensi perkebunan kelapa sawit, karet, dan tebu. Potensi tambang batubara tercatat di beberapa kecamatan, meskipun sektor ini belum berkembang sebesar sektor pertanian. Pada April 2025, Presiden Prabowo meninjau program percepatan tanam padi nasional di Ogan Ilir, di mana lahan rawa seluas 105 hektare yang sebelumnya tidak produktif berhasil dikembangkan menjadi sawah dengan teknologi drone pertanian.

Universitas Sriwijaya dan Peran Ogan Ilir Sebagai Kota Pendidikan

Salah satu hal yang paling identik dengan Ogan Ilir adalah kampus utama Universitas Sriwijaya (Unsri) di Indralaya. Kampus ini berdiri di atas lahan seluas 712 hektare, sering disebut sebagai kampus dengan pengembangan lahan terluas di Asia Tenggara. Pembebasan lahannya dilakukan pada 1982, pembangunan dimulai 1983, dan kampus diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 6 Maret 1997.

Keberadaan Unsri punya dampak besar terhadap ekonomi dan karakter Ogan Ilir. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah tinggal di sekitar Indralaya, menciptakan ekonomi lokal berupa kos-kosan, warung makan, dan jasa fotokopi yang tumbuh pesat. Untuk transportasi, Unsri menyediakan bus kuning internal kampus. Ada juga Kereta Api Ekspres Kertalaya yang menghubungkan Kampus Indralaya dengan Stasiun Kertapati di Palembang, satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang punya layanan kereta api untuk mahasiswanya.

Akses Menuju Ogan Ilir

Dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, perjalanan ke pusat Kabupaten Ogan Ilir di Indralaya memakan waktu sekitar 45 sampai 60 menit. Cara tercepat adalah lewat Tol Palindra (Palembang-Indralaya), jalan tol sepanjang 22 km yang merupakan bagian dari proyek Tol Trans Sumatera. Lewat tol, perjalanan bisa ditempuh dalam 30 menit saja.

Selain tol, ada jalan lama non-tol melalui jalur lintas timur Sumatera yang juga bisa digunakan. Beberapa jalur alternatif tersedia melalui Desa Pegayut di Kecamatan Pemulutan atau lewat Desa Palemraya. Transportasi umum masih terbatas di dalam kabupaten, jadi kendaraan pribadi atau sewa menjadi pilihan paling praktis untuk berkeliling. Pemkab Ogan Ilir menyediakan layanan bus gratis Trans Senai untuk beberapa rute di kawasan Tanjung Senai.

Wisata Alam dan Budaya di Ogan Ilir

Ogan Ilir belum sepopuler Palembang sebagai tujuan wisata, tapi kabupaten ini punya beberapa destinasi yang layak dikunjungi, terutama wisata alam berbasis sungai dan rawa.

Pantai Supi

Namanya “pantai,” tapi lokasinya bukan di pinggir laut. Pantai Supi terletak di bantaran Sungai Ogan di Desa Sungai Pinang, dengan hamparan pasir putih kekuningan yang muncul saat air surut. Pengunjung bisa bermain air, berenang di perairan dangkal, dan menikmati kuliner sungai seperti udang dan ikan bakar dari pedagang setempat. Tiket masuknya sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 sampai Rp5.000 per orang.

Kebun Raya Sriwijaya

Terletak di Kecamatan Indralaya Utara, Kebun Raya Sriwijaya adalah kawasan konservasi seluas sekitar 100 hektare yang didominasi area basah tanah gambut. Di sini Anda bisa menemukan berbagai koleksi tanaman basah dan tanaman obat-obatan. Tempat ini lebih sering dikunjungi untuk tujuan penelitian dan wisata edukasi, cocok bagi yang ingin suasana hijau dan tenang jauh dari keramaian kota.

Danau Teluk Seruo dan Tanjung Putus

Danau Teluk Seruo adalah danau buatan dengan arsitektur berbentuk kupu-kupu di kawasan perkantoran terpadu Pemkab Ogan Ilir. Tempat ini cocok untuk jogging sore atau sekadar bersantai. Tidak jauh dari sana, ada Tanjung Putus, sebuah area rawa lebak yang berubah wujud tergantung musim: menjadi padang rumput hijau di musim kemarau dan danau di musim hujan.

Desa Wisata Pulau Semambu dan Kampung Warna-Warni Burai

Untuk wisata edukasi, Desa Wisata Pulau Semambu di Kecamatan Indralaya Utara menawarkan aktivitas memberi makan hewan dan memetik buah langsung dari kebun. Sementara itu, Desa Burai dikenal dengan rumah-rumah warga yang dicat warna-warni, menjadikannya spot foto yang populer di kalangan wisatawan lokal.

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Berkunjung

Jaringan telepon seluler dan internet di Ogan Ilir sudah cukup memadai di wilayah perkotaan dan kecamatan besar, tapi kualitasnya bisa menurun di daerah pedesaan terpencil. Kuliner lokal yang wajib dicoba adalah pindang Pegagan (ikan gabus atau ikan patin), goreng ikan seluang, dan tentu saja olahan nanas segar langsung dari kebun petani.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau (Mei sampai Oktober), ketika jalan-jalan desa lebih mudah dilalui dan Pantai Supi menampilkan hamparan pasirnya yang paling luas. Di musim hujan, beberapa wilayah rawa bisa tergenang dan akses ke destinasi wisata tertentu menjadi lebih sulit.

Ogan Ilir mungkin bukan nama yang langsung terlintas saat orang memikirkan destinasi di Sumatera Selatan. Tapi dengan posisinya yang sangat dekat dari Palembang, pertanian nanas yang produktif, kampus Unsri yang jadi pusat pendidikan regional, dan wisata alam sungai yang unik, kabupaten ini punya lebih banyak cerita dari yang terlihat di peta.

Scroll to Top